Rabu, 16 Mei 2018

Angket Online

Angket ini digunakan untuk mengetahui bagaimaa respon siswa perihal kegiatan pembelajaran yang telah dijalani. Siswa dipersilahkan menjawab pertanyaan sesuai pendapat sebenarnya. Berikut Angket yang tersedia :

Angket Media Phet pada Materi Efek Fotolistrik

Soal Fisika Online

Berikut ini merupakan soal-soal untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa tentang materi yang sudah dibahas. Soal yangg disediakan seperti berikut :

Soal Efek Fotolistrik

Rabu, 09 Mei 2018

Materi Efek Fotolistrik

Pengantar 

Dalam postulatnya Planck mengkuantisasikan energi yang dapat dimiliki osilator, tetapi tetap memandang radiasi thermal dalam rongga sebagai gejala gelombang. Einstein dapat menerangkan efek fotolistrik dengan meluaskan konsep kuantisasi Planck. Einstein menggambarkan bahwa apabila suatu osilator dengan energi pindah ke suatu keadaan dengan energi, maka osilator tersebut memancarkan suatu gumpalan energi elektromagnetik dengan energi, Einstein  menganggap bahwa gumpalan energi yang semacam itu yang kemudian dikenal sebagai foton, yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

1.       Pada saat foton meninggalkan permukaan dinding rongga tidak menyebar dalam ruang seperti gelombang tetapi tetap terkonsentrasi dalam ruang yang terbatas yang sangat kecil.
2.      Dalam perambatannya, foton bergerak dengan kecepatan cahaya c.
3.      Energi faton terkait dengan frekuensinya yang memenuhi e = hv.
4.      Dalam proses efek fotolistrik energi foton diserap seluruhnya oleh elektron yang berada di permukaan logam.

Lima tahun sesudah Planck mengajukan makalah ilmiahnya tentang teori radiasi thermal oleh benda hitam sempurna, yaitu pada tahun 1905, Albert Einstein mengemukakan teori kuantum untuk menerangkan gejala fotolistrik. Secara eksperimental sahihnya teori kuantum itu dibuktikan oleh Millikan pada tahun 1914. Millikan secara eksperimental membuktikan hubungan linear antara tegangan pemberhentian elektron dan frekwensi cahaya yang mendesak elektron pada bahan katoda tertentu.
Pada tahun 1921 Albert Einstein memperoleh hadian Nobel untuk Fisika, karena secara teoritis berhasil menerangkan gejala efek fotolistrik. Kesahihan penafsiran Einstein mengenal fotolistrik diperkuat dengan telaah tentang emisi termionik. Telah alam diketahui bahwa dengan adanya panas akan dapat meningkatkan konduktivitas udara yang ada di sekelilingnya. Menjelang abad ke-19 ditemukan emisi elektron dari benda panas. Emisi termionik memungkinkan bekerjanya piranti seperti tabung televisi yang di dalamnya terdapat filamen logam atau katoda berlapisan khusus yang pada temperatur tinggi mampu menyajikan arus elektron yang rapat.
Jelaslah bahwa elektron yang terpancar memperoleh energi dari agitasi thermal zarah pada logam, dan dapat diharapkan bahwa elektron harus mendapat energi minimum tertentu supaya dapat lepas. Energi minimum ini dapat ditentukan untuk berbagai permukaan dan selalu berdekatan dengan fungsi kerja fotolistrik untuk permukaan yang sama. Dalam emisi fotolistrik, foton cahaya menyediakan energi yang diperlukan oleh elektron untuk lepas, sedang dalam emisi termionik kalorlah yang menyediakannya. Dalam kedua kasus itu proses fisis yang bersangkutan dengan timbulnya elektron dari permukaan logam adalah sama.

 Untuk membangkitkan tenaga listrik dari cahaya matahari kita mengenal istilah sel surya. Namun tahukah kita bahwa sel surya itu sebenarnya memanfaatkan konsep efek fotolistrik. Efek ini akan muncul ketika cahaya tampak atau radiasi UV jatuh ke permukaan benda tertentu. Cahaya tersebut mendorong elektron keluar dari benda tersebut yang jumlahnya dapat diukur dengan meteran listrik. Konsep yang sederhana ini tidak ditemukan kemudian dimanfaatkan begitu saja, namun terdapat serangkain proses yang diwarnai dengan perdebatan para ilmuan hingga ditemukanlah definisi cahaya yang mewakili pemikiran para ilmuan tersebut, yakni cahaya dapat berprilaku sebagai gelombang dapat pula sebagai pertikel. Sifat mendua dari cahaya ini disebut dualisme gelombang cahaya.

Meskipun sifat gelombang cahaya telah berhasil diaplikasikan sekitar akhir abad ke-19, ada beberapa percobaan dengan cahaya dan listrik yang sukar dapat diterangkan dengan sifat gelombang cahaya itu. Pada tahun 1888 Hallwachs mengamati bahwa suatu keping itu mula-mula positif, maka tidak terjadi kehilangan muatan. Diamatinya pula bahwa suatu keping yang netral akan memperoleh muatan positif apabila disinari. Kesimpulan yang dapat ditarik dari pengamatan-pengamatan di atas  adalah bahwa chaya ultraviolet mendesak keluar muatan litrik negatif dari permukaan keping logam yang netral. Gejala ini dikenal sebagai efek fotolistrik.

Materi Efek Fotolistrik

Hasil-hasil eksperimen menunjukkan, bahwa suatu jenis logam tertentu bila disinari (dikenai radiasi) dengan frekuensi yang lebih besar dari harga tertentu akan melepaskan elektron, walaupun intensitas radiasinya sangat kecil. Sebaliknya, berapapun besar intensitas radiasi yang dikenakan pada suatu jenis logam, jika frekuensinya lebih kecil dari harga tertentu maka tidak akan dapat melepaskan elektron dari logam tersebut. Peristiwa pelepasan elektron dari logam oleh radiasi tersebut disebut efek fotolistrik, diamati pertama kali oleh Heinrich Hertz (1887). Elektron yang terlepas dari logam disebut foto-elektron. 

Efek fotolistrik membutuhkan foton dengan energi dari beberapa electronvolts sampai lebih dari 1 MeV unsur yang nomor atomnya tinggi. Studi efek fotolistrik menyebabkan langkah-langkah penting dalam memahami sifat kuantum cahaya, elektron dan mempengaruhi pembentukan konsep Dualitas gelombang-partikel. fenomena di mana cahaya mempengaruhi gerakan muatan listrik termasuk efek fotokonduktif (juga dikenal sebagai fotokonduktivitas atau photoresistivity ), efek fotovoltaik , dan efek fotoelektrokimia. 

Ketika seberkas cahaya dikenakan pada logam, ada elektron yang keluar dari permukaan logam. Gejala ini disebut efek fotolistrik. Efek fotolistrik diamati melalui prosedur sebagai berikut. Dua buah pelat logam (lempengan logam tipis) yang terpisah ditempatkan di dalam tabung hampa udara. Di luar tabung kedua pelat ini dihubungkan satu sama lain dengan kawat. Mula-mula tidak ada arus yang mengalir karena kedua plat terpisah. Ketika cahaya yang sesuai dikenakan kepada salah satu pelat, arus listrik terdeteksi pada kawat. Ini terjadi akibat adanya elektron-elektron yang lepas dari satu pelat dan menuju ke pelat lain secara bersama-sama membentuk arus listrik.


Cahaya dipandang sebagai kuantum energi yang hanya memiliki energi yang diskrit bukan kontinu yang dinyatakan sebagai E = hf. Konsep penting yang dikemukakan Einstein sebagai latar belakang terjadinya efek fotolistrik adalah bahwa satu elektron menyerap satu kuantum energi. Satu kuantum energi yang diserap elektron digunakan untuk lepas dari logam dan untuk bergerak ke pelat logam yang lain. Hal ini dapat dituliskan sebagai Energi cahaya = Energi ambang + Energi kinetik maksimum elektron

E = W0 + Ekm

hf = hf0 + Ekm

Ekm = hf – hf0 


Persamaan ini disebut persamaan efek fotolistrik Einstein. Perlu diperhatikan bahwa W0 adalah energi ambang logam atau fungsi kerja logam, f0 adalah frekuensi ambang logam, f adalah frekuensi cahaya yang digunakan, dan Ekm adalah energi kinetik maksimum elektron yang lepas dari logam dan bergerak ke pelat logam yang lain. Dalam bentuk lain persamaan efek fotolistrik dapat ditulis sebagai 

Dimana m adalah massa elektron dan ve adalah dan kecepatan elektron. Satuan energi dalam SI adalah joule (J) dan frekuensi adalah hertz (Hz). Tetapi, fungsi kerja logam biasanya dinyatakan dalam satuan elektron volt (eV) sehingga perlu diingat bahwa 1 eV = 1,6 × 10−19 J




Sumber :
https://penoflive.wordpress.com/2011/05/26/makalah-efek-fotolistrik/
https://www.academia.edu/10001882/MAKALAH_FISIKA_EFEK_FOTOLISTRIK_





Sabtu, 05 Mei 2018

EFEK FOTOLISTRIK

MATERI EFEK FOTOLISTRIK

Hasil-hasil eksperimen menunjukkan, bahwa suatu jenis logam tertentu bila disinari (dikenai radiasi) dengan frekuensi yang lebih besar dari harga tertentu akan melepaskan elektron, walaupun intensitas radiasinya sangat kecil. Sebaliknya, berapapun besar intensitas radiasi yang dikenakan pada suatu jenis logam, jika frekuensinya lebih kecil dari harga tertentu maka tidak akan dapat melepaskan elektron dari logam tersebut. 

Peristiwa pelepasan elektron dari logam oleh radiasi tersebut disebut efek fotolistrik, diamati pertama kali oleh Heinrich Hertz (1887). Elektron yang terlepas dari logam disebut foto-elektron.Peristiwa pelepasan elektron dari logam oleh radiasi tersebut disebut efek fotolistrik, diamati pertama kali oleh Heinrich Hertz (1887). Elektron yang terlepas dari logam disebut foto-elektron. Ketika seberkas cahaya dikenakan pada logam, ada elektron yang keluar dari permukaan logam. Gejala ini disebut efek fotolistrik... (Read More..)

Untuk tambahan referensi belajar tentang materi Efek Fotolistrik, silahkan download file pdf tentang materi Efek Fotolistrik disini

Untuk mengevaluasi pemahaman dalam materi Efek Fotolistrik, kerjakan soal-soal tentang Efek Fotolistrik disini

Untuk memperdalam pemahamanmu, lakukan percobaan tentang Efek Fotolistrik, misalnya dengan menggunakan alat Photoelectric Effect Apparatus AP-8209. Silahkan mendownload panduan praktikum disini

Dibawah ini merupakan langkah-langkah percobaan efek fotolistrik, yaitu untuk menentukan Konstanta Planck dengan menggunakan alat Photoelectric Effect Apparatus AP-8209.

Sabtu, 10 Juni 2017

Lembar Penilaian Kinerja Peserta Didik (Materi Pengukuran Massa SMA)

LEMBAR PENILAIAN KINERJA
Kegiatan Praktikum    :
Kelas                           :
Nama Kelompok         : 1.
              2.
              3.
No.
Aspek yang dinilai
Kriteria Penilaian
Skor
1
2
3
1
Mengecek alat
2
Mengkalibrasi alat
3
Mengoperasikan alat
4
Menyajikan hasil pengukuran
Jumlah Skor

Rubrik Penilaian Keterampilan
No.
Aspek yang dinilai
Kriteria penilaian
3
2
1
1.
Mengecek alat
Mengecek setiap alat  percobaan (>50%) yang akan digunakan
Mengecek sebagian alat  percobaan (<50%) yang akan digunakan
Tidak mengecek setiap alat yang digunakan
2.
Mengkalibrasi neraca tig lengan
Mengkalibrasi neraca tiga lengan dengan memutar tombol kalibrasi hingga neraca mencapai garis kesetimbangan.
Mengkalibrasi neraca tiga lengan dengan memutar tombol kalibrasi namun neraca tidak mencapai garis kesetimbangan.
Tidak mengkalibrasi neraca tiga lengan
3.
Mengoperasikan alat
Mengoperasikan neraca tiga lengan dengan menggeser anting pada lengan skala paling besar terlebih dahulu  sampai garis kesetimbangan hampir tercapai.
Mengoperasikan neraca tiga lengan dengan menggeser anting pada lengan skala paling kecil terlebih dahulu sampai garis kesetimbangan hampir tercapai.
Tidak bisa mengoperasikan neraca tiga lengan dengan benar.
4.
Menyajikan hasil pengukuran
Menyajikan hasil pengukuran dengan mencantumkan ketelitian neraca tiga lengan dan menerapkan aturan angka penting
Menyajikan hasil pengukuran tanpa mencantumkan ketelitian neraca tiga lengan atau tanpa menerapkan aturan angka penting
Menyajikan hasil pengukuran tanpa mencantumkan ketelitian neraca tiga lengan dan tanpa menerapkan aturan angka penting





Lembar Observasi Sikap
Kelas         : ..........................
Nama         : 1.
                    2.
                    3.
No.
Aspek yang dinilai
Kriteria Penilaian
Skor
1
2
3
1
Kehadiran
2
Keaktifan
3
Kedisiplinan
4
Kemampuan berkomunikasi
5
Kerjasama dalam kelompok
Jumlah Skor

Rubrik Penilaian Sikap
No
Aspek yang dinilai
Skor
1
Kehadiran
1.    Tidak masuk  dan terlambat lebih dari 15 menit.
2.    Datang terlambat. (kurang dari 15 menit)
3.    Hadir tepat waktu pada proses pembelajaran.
2
Keaktifan
1.    Tidak pernah bertanya dan memberi pendapat.
2.    Pernah bertanya dan memberi pendapat (tidak lebih dari 2 kali)
3.    Sering bertanya dan memberikan pendapat (lebih dari 2 kali)
3
Disiplin waktu
1.          Tidak mengumpulkan tugas.
2.          Mengumpulkan tugas, namun terlambat (kurang dari 15 menit)
3.          Mengumpulkan tugas tepat waktu.

Kemampuan Berkomunikasi
1.         Tidak mampu berkomunikasi dengan baik di depan kelas.
2.         Mampu berkomunikasi cukup baik di depan kelas.
3.         Mampu berkomunikasi dengan baik di depan kelas.

Kerjasama dalam kelompok
1.         Tidak mampu bekerja sama secara kelompok (individual)
2.         Bekerja sama dalam kelompok saat melakukan percobaan saja, atau saat diskusi kelompok saja.
3.         Bekerja sama dalam kelompok saat melakukan percobaan dan diskusi kelompok.



UNtuk RPP silahkan kunjungi >> RPP PEngukuran Massa SMA (Direct Instruction)

KITA BISA SIAGA TSUNAMI ! (Apa itu tsunami dan mitigasinya)

Masih belum hilang dari ingatan kita tentang 13 tahun yang lalu tepat pada tanggal 26 Desember 2004. Sebuah bencana besar meluluh lantakk...